Kamis, 12 Juni 2014

PENERAPAN HIGH TOUCH SEORANG KONSELOR (KEWIBAWAAN, PENAKUAN DAN KASIH SAYANG TERHADAP KONSELI) Oleh : *Zaldi Muzani


Oleh : *Zaldi Muzani
s
ebelumnya kita harus mengetahui apa yang dimaksud High Touch itu sendiri yakni sentuhan-sentuhan tingkat tinggi yang mengenai aspek-aspek kepribadian dan kemanusian peserta layanan (afektif,semangat, sikap, nilai, dan moral), melalui implementasi oleh konselor dengan penjelasan ke tiga poin sebagai berikut :

A.    Kewibawaan ( High Touch)
Kewibawaan  identik dengan high-touch atau lazim disingkat hi-touch dalam proses pembelajaran. Kata touch berasal dari bahasa Inggris yangartinya sentuhan. Oleh sebab itu, dalam konteks pembelajaran, pengertian touch mengacu pada kemampuan pendidik memberikan sentuhan-sentuhan dalam proses pembelajaran. Pemberian sentuhan itu terkait dengan pendidik sebagai tenaga profesional yang berpijak pada kode etik tertentu. Pemberian sentuhan tertentu terhadap peserta didik oleh pendidik dalam pembelajaran merupakan hal yang mendasar karena merupakan alat pendidikan yang  ampuh. Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan (2005: 23—24) menyebutnya sebagai kewibawaan. Kewibawaan yang efektif menurut Charles Schaefer (1996:86) didasarkan atas pengetahuan yang lebih utama atau keahlian yang dilaksanakan dalam suatu suasana kasih sa-yang dan saling menghormati. Karenanya, pendidik diharapkan memiliki kewibawaan agar mampu membimbing peserta didik ke arah pencapaian tujuan belajar yang sesungguhnya dapat direali-sasikan. Wens Tanlain dkk. (1996:78) lebih tegas menjelaskan bahwa kewibawaan adalah adanya penerimaan, pengakuan, kepercayaan peserta didik terhadap pendidik yang diharapkan mampu memberi bantuan, tuntunan dan nilai-nilai manusiawi.  Pokja Pengembangan Peta Keilmuan Pendidikan (2005: 24) menyatakan bahwa kewibawaan meliputi: (1) pengakuan, (2) kasih sayang dan kelembutan, (3) penguatan, (4) pengarahan, (5) tindakan tegas yang mendidik, dan (6)keteladanan yang mendidik. Uraian singkat tentang hal-hal itu adalah sebagai berikut ini.
B. Pengakuan
T Raka Joni (1982:65) menyatakan bahwa karakteristik pendidik meliputi: (1) penguasaan materi yang mantap, (2) sepenuh hati menyukai bidangnya, (3) menguasai berbagai strategi pembelajaran, (4) mampu mengelola kegiatan pembelajaran secara klasikal, kelompok, dan individual (5) mengutamakan standar prestasi yang tinggi untuk siswa dan dirinya, dan (6) dekat dan suka bergaul dengan siswa. Dengan memiliki karakteristik tersebut, idealnya terjadi hubungan pengakuan timbal-balik dan mendidik. Pendidik mengembangkan pengakuan bahwa dirinya merupakan seorang tenaga profesional yang menyandang berat dan mulia  yaitu mengembangkan seluruh potensi positif peserta didik, sementara itu peserta didik mengembangkan pengakuan bahwa dirinya dihargai dan ditaburi ketulusan gurunya dalam proses pengarahan dan pengembangan diri.
Pengakuan timbal-balik guru peserta didik akan mengembangkan sikap saling menghargai, menerima, dan kerja sama dal-am suasana demokratis. Jika hal ini telah terbentuk maka proses “belajar” dan “mengajar” merupakan proses yang menyenangkan dan dinamis.


C. Kasih Sayang dan Kelembutan
Prayitno (2002:14) menyatakan bahwa dalam proses pendidikan ada kedekatan antara pendidik dan peserta didik. Hubungan antara pendidik dan peserta didik haruslah mengarah ke-pada tujuan-tujuan instrinsik pendidikan, dan terbebas dari tujuan-tujuan ekstrinsik yang bersifat pamrih untuk kepentingan pribadi pendidik. Lebih jauh, Prayitno (2002:14) menjelaskan bahwa pamrih-pamrih yang ada, selain dapat merugikan dan membebani peserta didik, juga merupakan pengingkaran terhadap makna pendidikan dan menurunkan kewibawaan pendidik. Wibawa tersebut hendaknya dibangun atas rasa kasih sayang, kasih sayang antara guru peserta didik, maupun antarpeserta didik. Kasih sayang yang tumbuh dari pengakuan yang tulus atas individu (guru maupun peserta didik) sebagai subjek, bukan predikat, apa lagi objek bagi individu lain. Dalam artian kita sebagai konselor harus bisa semaksimal mungki dekat dan tidak ada jarak dengannya. (Tiada Hari Tanpa Konseling)



















*) Zaldi Muzani 1111500233 VI F, Progdi BK UPS Tegal

1 komentar:

  1. Pinter nulis jebule,, lanjutkan semoga bisa membuat karya yang lebih baik lagi. lovee u

    BalasHapus